Senin, 06 Januari 2020

Imperfect : Tentang Body Shaming dan Rasa Insecure


Film yang disutradarai Ernest Prakasa ini memang mengangkat tema yang hampir dirasakan oleh semua orang, tentang body shaming, rasa insecure, maupun diskriminasi. Isu seperti ini pun bukan hanya datang dari keluarga maupun teman terdekat, tetapi juga bisa datang dari mana saja melalui media sosial.

Masih sama dengan film-film Ernest sebelumnya, film ini juga menyajikan drama kekeluargaan yang dibungkus dengan komedi yang pas. Alur cerita yang ringan membuat film ini mudah dipahami tanpa susah payah memikirkan jalan ceritanya. Walaupun terkesan ringan, tapi akting totalitas dari pemerannya mampu membuat emosi penontonnya naik turun.


Tokoh utama dalam film ini yaitu Rara, seorang perempuan yang sering mengalami body shaming, bahkan diskriminasi karena mempunyai bentuk tubuh yang gemuk. Bahkan karirnya sempat terhambat karena penampilannya yang dianggap tidak memenuhi standar kecantikan orang-orang. Ha linilah yang membuat Rara akhirnya melakukan diet ketat agar mempunyai penampilan yang menarik.

Kegelisahan rara tidak hanya sampai disitu, walaupun sudah mempunyai penampilan yang menarik serta jabatan yang diinginkan. Rara masih saja merasa insecure dengan hal-hal lain. Uniknya, bukan hanya tokoh utama, semua karakter difilm ini mempunyai rasa insecure-nya masing-masing. Dari sini tentunya sudah menjelaskan bahwa rasa insecure bisa dirasakan oleh siapa saja, bahkan oleh orang yang dianggap “sempurna” oleh orang lain.

Tokoh dika sebagai pacar Rara yang diperankan Reza Rahardian tidak perlu diragukan lagi, karakternya yang santai sangat natural ditambah dengan kalimat-kalimat manis yang selalu buat meleleh, hehe.  Selain itu, empat tokoh anak kost perempuan di rumah ibunya Dika  juga semakin membuat film ini menarik, kehadiran mereka yang selalu muncul dengan candaan-candaan yang ringan tapi bermakna.


Karakter Rara difilm ini dapat mewakili potret keseharian para perempuan yang masih sering merasa insecure dan belum bisa mencintai diri sendiri. Film ini juga menyinggung tentang penggunaan media sosial yang akhirnya digunakan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang terlihat sempurna.

Adanya film ini menjelaskan betapa body shaming dapat menyakit hati, bukan hanya fisik tetapi juga mental orang itu sendiri. Walaupun kata-kata tersebut muncul dari keadaan fisik yang terlihat, tanpa disadari hal tersebut masuk kedalam body shaming, baik bercanda maupun serius. 

Seperti tagline dari film ini yaitu “merubah insecure menjadi bersyukur”, menyadarkan bahwa kita harus bisa lebih bersyukur dengan potensi yang kita miliki, tidak perlu terlalu fokus dengan keadaan fisik dan omongan orang lain. Walaupun begitu, setidaknya kita juga bisa berguna bagi orang lain.

1 komentar:

Rekomendasi Drama Korea Slice of Life