Masih sama dengan film-film Ernest sebelumnya, film ini juga menyajikan drama kekeluargaan yang dibungkus dengan komedi yang pas. Alur cerita yang ringan membuat film ini mudah dipahami tanpa susah payah memikirkan jalan ceritanya. Walaupun terkesan ringan, tapi akting totalitas dari pemerannya mampu membuat emosi penontonnya naik turun.
Tokoh utama dalam film ini yaitu Rara, seorang perempuan yang sering mengalami body shaming, bahkan diskriminasi karena mempunyai bentuk tubuh yang gemuk. Bahkan karirnya sempat terhambat karena penampilannya yang dianggap tidak memenuhi standar kecantikan orang-orang. Ha linilah yang membuat Rara akhirnya melakukan diet ketat agar mempunyai penampilan yang menarik.
Kegelisahan rara tidak hanya
sampai disitu, walaupun sudah mempunyai penampilan yang menarik serta jabatan
yang diinginkan. Rara masih saja merasa insecure dengan hal-hal lain. Uniknya,
bukan hanya tokoh utama, semua karakter difilm ini mempunyai rasa insecure-nya
masing-masing. Dari sini tentunya sudah menjelaskan bahwa rasa insecure bisa
dirasakan oleh siapa saja, bahkan oleh orang yang dianggap “sempurna” oleh
orang lain.
Tokoh dika sebagai pacar Rara
yang diperankan Reza Rahardian tidak perlu diragukan lagi, karakternya yang
santai sangat natural ditambah dengan kalimat-kalimat manis yang selalu buat
meleleh, hehe. Selain itu, empat tokoh anak
kost perempuan di rumah ibunya Dika juga
semakin membuat film ini menarik, kehadiran mereka yang selalu muncul dengan
candaan-candaan yang ringan tapi bermakna.
Karakter Rara difilm ini dapat
mewakili potret keseharian para perempuan yang masih sering merasa insecure dan
belum bisa mencintai diri sendiri. Film ini juga menyinggung tentang penggunaan
media sosial yang akhirnya digunakan untuk membandingkan diri sendiri dengan
orang lain yang terlihat sempurna.
Adanya film ini menjelaskan betapa body shaming dapat
menyakit hati, bukan hanya fisik tetapi juga mental orang itu sendiri. Walaupun
kata-kata tersebut muncul dari keadaan fisik yang terlihat, tanpa disadari hal
tersebut masuk kedalam body shaming, baik bercanda maupun serius.
Seperti tagline dari film ini yaitu “merubah insecure
menjadi bersyukur”, menyadarkan bahwa kita harus bisa lebih bersyukur dengan
potensi yang kita miliki, tidak perlu terlalu fokus dengan keadaan fisik dan omongan orang lain. Walaupun begitu, setidaknya kita juga bisa berguna bagi orang lain.



Berarti kakak belajar tentang film ini tidak?
BalasHapus