![]() |
| www.lrsrecycles.com |
Permasalahan
sampah di Indonesia seperti tidak ada habisnya, salah satunya adalah sampah plastik.
Seperti yang dikutip kompas, bahwa Indonesia menghasilkan sampah plastik sebanyak
175.000 ton/hari, jika diasumsikan dari data tersebut, maka sampah plastik yang
dihasilkan setiap orang adalah 0,7 kg/hari atau sekitar 67 juta ton/tahun.
Terus darimana
datangnya sampah-sampah plastik ini? tentunya dari diri kita sendiri maupun
dari masyarakat yang semakin konsumtif. Plastik sendiri sudah menjadi kebutuhan
karena sifatnya yang fleksibel, terjangkau, dan tahan lama, sehingga tidak
heran kalau kita tidak bisa jauh-jauh dengan plastik.
Perlu diketahui bahwa
plastik tidak dapat terurai dengan cepat dan mudah. Hal ini dapat menyebabkan
pencemaran lingkungan, baik didarat maupun laut. Dampak yang ditimbulkan yaitu
mencemari air tanah, menyebabkan polusi udara, mengganggu rantai makanan, dan bisa juga merusak pariwisata.
Buang sampah pada
tempatnya saja tidak cukup untuk menjaga lingkungan, bisa saja bersih di tempat
kita tapi menjadi masalah di tempat lain, hehe. Salah satu cara yang bisa kita lakukan
adalah melakukan gaya hidup minim sampah, yaitu mengurangi menggunakan bahan
yang mencemari lingkungan dan tidak memakai bahan sekali pakai dalam sehari-hari.
Setidaknya
dengan cara ini bisa mengurangi sampah bahkan tanpa sampah sama sekali, terutama
use single plastic atau plastic sekali pakai. Di beberapa negara seperti
Amerika, Swedia, Slandia Baru, Australia, dan beberapa negara Eropa lainnya
sudah menerapkan konsep ini sebagai solusi konkret dalam pengelolaan sampah. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa kota
yang menerapkan program Zero Waste Cities, contohya adalah kota Cimahi,
kota Bandung, dan Kabupaten Bandung.
Selain sampah
yang dihasilkan sehari-hari, acara-acara pertemuan atau rapat juga dapat
menghasilkan sampah plastik yang banyak loh. Salah satu cara menerapkan gaya
hidup minim sampah di acara pertemuan atau rapat , yaitu tidak menggunakan plastik
atau bahan sekali pakai, hehe.
![]() |
| pengganti piring sekali pakai |
Kalau biasanya
untuk snack prasmanan menggunakan piring sekali pakai, kali ini kita ganti
menggunakan daun pisang. Selain ramah lingkungan karena mudah diurai oleh tanah,
daun pisang juga mengandung senyawa polifenol yang berperan sebagai antioksidan
dan dapat menambah rasa sedap pada makanan.
Cukup dibilas
menggunakan air bersih, daun pisang ini bisa langsung digunakan. Tanpa perlu
menggunakan sabun, sehingga tidak menimbulkan limbah dari sabun juga kan, hehe.
Air limbah sabun yang terbuang tanpa diolah juga memunculkan masalah baru,
yaitu bisa mencemari lingkungan, terutama air.
![]() |
| penyajian prasmanan |
Selanjutnya
adalah penyajian snack pada prasmanan juga tidak menggunakan barang atau plastik sekali
pakai. Untuk tempat snack menggunakan tampah yang dilapisi dengan daun pisang.
Selain itu, sebaiknya tidak menggunakan Air Minum dalam Kemasan (AMDK), kita
bisa menggunakan gelas kaca yang bisa digunakan berulang kali.
Oya, ketika
menyajikan makanan jangan lupa untuk ditutup ya, hal ini merupakan salah satu langkah
keamanan pangan. Tujuannya untuk mengurangi kontaminasi dari udara maupun
lingkungan sekitar dan tentunya supaya tidak dihinggapi serangga yang membawa
penyakit seperti lalat.
Dengan melakukan
gaya hidup minim sampah disuatu acara, secara tidak langsung kita sudah
mengajak para tamu maupun orang-orang sekitar untuk berkontribusi dalam
mengurangi sampah plastik dan menjaga lingkungan.


