Halaman

Jumat, 12 Februari 2021

Zero Waste Cities : Meningkatkan Kualitas Hidup Petugas Pengumpul Sampah

Permasalahan sampah di Indonesia seperti tidak ada habisnya. Sesuai dengan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHLK) yang dikutip Kompas, bahwa Indonesia setiap tahunnya mengahasilkan timbunan sampah sekitar 64 juta ton. Dimana 60% diangkut dan ditimbun di Tempat Pembuangan Sampah (TPA), 10% didaur ulang, dan 30% dibiarkan mencemari lingkungan.

Terus darimana datangnya sampah-sampah ini? Tentunya dari kita sendiri maupun dari masyarakat yang semakin konsumtif. Misalnya, penggunaan plastik yang sudah menjadi kebutuhan karena sifatnya yang fleksibel, terjangkau, dan tahan lama. Sehingga tidak heran penggunaan plastik menjadi semakin banyak, yang artinya semakin banyak juga sampah plastik yang dihasilkan.

Perlu diketahui bahwa plastik tidak mudah terurai, jika sampah plastik dibuang semberangan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, baik didarat maupun dilaut. Dampak yang ditimbulkan yaitu dapat mencemari air tanah, mengganggu rantai makanan, menyebabkan polusi tanah, bahkan merusak pariwisata.

Memang slogan “buang sampah pada tempatnya” saja tidak cukup untuk menjaga lingkungan, bisa saja bersih ditempat kita, tapi menjadi masalah ditempat lain. Ada beberapa cara untuk mengurangi sampah, misalnya dengan menerapkan gaya hidup minim sampah, yaitu dengan mengurangi penggunaan bahan yang mencemari lingkungan  dan bahan sekali pakai dalam sehari-hari. Selain itu, bisa juga melakukan pemilahan sampah sebelum akhirnya dibuang ke TPA.

Sayangnya, kesadaran masyarakat Indonesia tentang pemilahan sampah masih kurang. Hal ini tentu saja sangat berdampak pada lingkungan, terutama dengan kondisi timbunan sampah di TPA yang terus meningkat. Selain menimbulkan aroma yang tidak sedap, timbunan sampah yang tercampur ini juga berpotensi menyebabkan bencana longsor seperti yang pernah terjadi di TPA Leuwigajah pada tahun 2005. Bukan cuma berdampak pada lingkungan, tapi juga hal ini berisiko menyebabkan kecelakaan pada petugas pengumpul sampah.

Kita pasti sudah tidak asing dengan petugas pengumpul sampah, yang setiap minggu atau setiap beberapa hari sekali keliling untuk mengambil sampah dari rumah ke rumah. Mereka menjadi salah satu yang berperan penting dalam pengelolaan sampah. Tapi, upah yang mereka terima tidak sebanding dengan risikonya, apalagi dengan minimnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD).

Seperti yang pernah terjadi di Bandung  Raya pada tahun 2018, dimana ada petugas pengumpul sampah yang meninggal akibat luka terkena tusuk sate yang dibuang bersama sampah lainnya. Selain itu, bau sampah yang tercampur juga sangat menyengat, hal ini juga mempengaruhi kesehatan. Sehingga perlu dicatat bahwa penggunaan APD juga perlu dipertimbangkan bagi setiap tukang sampah. Seperti sepatu boots, masker, dan sarung tangan.

Sebagai solusi konkret dalam pengelolaan sampah, konsep Zero Waste Cities sudah diterapkan dibeberapa daerah di Indonesia. Pada tahun 2017 konsep ini sudah diterapkan di Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung. Dan sudah mulai dikembangkan di Kabupaten Gresik, Denpasar, dan Medan sejak tahun 2019. Zero Waste Cities merupakan pengembangan sistem pengumpulan sampah terpilah dan pengolahan sampah secara holistic dan berkelanjutan. Dengan aspek edukasi, operasional, kelembagaan, regulasi, dan pembiyayaan. 

Kasman, petugas pengumpul sampah RW 19 Kelurahan Cigugur Tengah Cimahi

Tujuan adanya konsep Zero Waste Cities ini adalah untuk mengurangi beban pengelolaan sampah ditingkat kota maupun kabupaten, dengan menekankan adanya pemilahan sampah dari level rumah tangga. Menurut Prigi Arisadi, perwakilan dari Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), tiga kekuatan program Zero Waste Cities yaitu :

1. Adanya informasi karakter sampah : Dengan adanya infromasi ini, kita bisa mengetahui bagaimana pengelolaan sampah yang sesuai dengan wilayah masing-masing. 

2. Edukasi rumah ke rumah : Melakukan edukasi dari rumah ke rumah, artinya kita melibatkan masyarakat untuk turut serta menerapkan Zero Waste Cities.

3. KebersamaanKebersamaan muncul karena adanya proses pembentukan komite pengelolaan sampah.

Konsep Zero Waste Cities ini menitikberatkan adanya pemilahan sampah dari rumah, paling tidak sampah organik dan sampah anorganik sudah dipisah saat diangkut petugas pengumpul sampah.  Selanjutnya sampah organik tersebut akan dimanfaatkan menjadi kompos di wilayah, sehingga akan mengurangi sampah yang nantinya diangkut ke TPA. Selain itu, dengan adanya konsep ini juga akan mengurangi beban dan meminimalisir risiko yang dihadapi petugas pengumpul sampah. Berikut ini adalah gambar contoh pemilahan sampah : 

Pemisahan sampah

Adanya pemilahan sampah akan meningkatkan kualitas hidup petugas pengumpul sampah, yang artinya mereka tidak perlu bergulat dengan sampah tercampur dan bau menyengat yang mengganggu kesehatan.  Apalagi, dimasa pandemi seperti ini petugas pengumpul sampah harus tetap bekerja, karena kita tetap menghasilkan sampah setiap hari. Setidaknya dengan konsep ini bisa mengurangi risiko petugas tertular virus.

Konsep Zero Waste Cities tidak hanya melibatkan satu sektor saja, tapi melibatkan semuanya. Dari masyarakat, petugas pengumpul sampah, dan pemerintah. Dengan terlibatnya pemerintah, diharapkan bisa membuat regulasi terkait pengelolaan sampah dan kesejahteraan petugas pengumpul sampah, setidaknya dengan upah yang layak dan jaminan kesehatan.

Penerapan pengelolaan sampah dari wilayah memang membutuhkan waktu dan dukungan dari banyak pihak. Tapi setidaknya kita sudah bisa menerapakn Zero Waste dirumah masing-masing, dengan mengurangi sampah, pemilahan sampah, dan pemanfaatan sampah organik. Yuk bisa yuk!




Tidak ada komentar:

Posting Komentar